Minggu, 11 September 2011

PEMANFAATAN VIDEO TAPE RECORDER (VTR) UNTUK PENGEMBANGAN MATEMATIKA REALISTIK DI SMP


Disampaikan pada
Workshop Nasional Pembelajaran PMRI Untuk SMP/MTs
Di Hotel Inna Garuda
Yogyakarta
13 s.d. 15 November 2009

By : Dr. Marsigit, M. A.

Mathematics Education Department
Mathematics and Natural Science Faculty
Yogyakarta State University

Reviewed by: Nidya Ferry Wulandari (09301241033)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University

Realistic mathematics emphasize on construction of concrete things context to understand mathematics easily for students especially for Junior High School. Like an statement by Hans Freudental (Sugiman: 2007), that mathematics is human activities and must be related with facts in our life. So, when the students are learning mathematics, its mean that there are mathematics process which related with their life. There are two kinds of mathematics process, (1) do mathematics horizontally its mean process how to change from the real life into mathematics symbol and (2) do mathematics vertical having definition that is the process which happen on independent mathematics system.
Then, if we look at the teacher, how the teacher’s effort to get some ideas about concrete things and also enviromental object that can be used in mathematics learning process. Study and analysis about mathematics learning which recorded in Video Tape Recorder (VTR) is one of the way can be done by the teachers to develop realistic mathematics. There are many advantages that can develop teacher’s abilities by VTR. With VTR, the teachers should be learn how to make learning process in Junior High School accord to realistic mathematics principle, how to develop source of learning and also how to apply realistic mathematics in mathematics learning process.
Futhermore, as a teacher should develop mathematics learning process with realistic mathematics principle, especially for students in Junior High School. There are four steps to apply realistic mathematics (Zulkardi, 2004), that is: introduction, creation and development symbol model, explanation and reason, and the last is closing or application. Four steps above must be reflected in mathematics learning process.
Especially after we talk about realistic mathematics, now we talk about use of Video Tape Recorder (VTR) to develop realistic mathematics in Junior High School. As an statement by Mr. Isoda, M (2006) about the benefit of VTR is VTR (Video Tape Recorder) for teacher education and reform movement in mathematics education, specifically for developing lesson study has some benefits as: a) short summary of the lesson with emphasis on major problems in the lesson, b) components of the lesson and main events in the class, and c) possible issues for discussion and reflection with teachers observing the lesson.
VTR can be applied in many chapter of mathematics when learning process, for example VTR on Geometry, VTR on fraction learning, and so on. VTR can load and show how the students discover something on mathematics learning. Moreover, VTR also can show and describe how the students apply their knowledge to make something like how to get an simple formula from the difficult formula. Absolutely, all of mathematics learning models which are recorded in VTR have excess and deficiency. So, for the teachers should discuss it to get a recent knowledge and science by compare with their experiences. Beside that, VTR also have deficiency, for example is limited on point if view, some aspect on learning process can’t be recorded on VTR, then for picture quality and shooting the picture of learning process maybe can’t focus.
The conclusion is VTR can be used to develop realistic mathematics learning process by the teacher to make the students understand mathematics easily. Finally, that VTR give many advantages to the teacher in mathematics learning process.

SUPPORTING EVIDENCES AND MONITORING TO DEVELOP SCHOOL-BASED CURRICULUM FOR JUNIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS IN INDONESIA


By : Dr. Marsigit, M. A.
Department of Mathematics Education
Faculty of Mathematics and Natural Science
Yogyakarta State University, Indonesia

Reviewed by: Nidya Ferry Wulandari (09301241033)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University

Sesuai dengan pembukaan UUD 1945, bahwa tujuan utama pemerintahan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut memajukan kesejahteraan umum. Tujuan adanya sistem pendidikan adalah: (1) meningkatkan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (2) mengembangkan kecerdasan dan keahlian individu, (3) membantu mengembangkan sikap yang positif pengembangan dan kepercayaan diri, dan (4) menjamin semua anak mendapatkan pendidikan. Sejak tahun 1968/1969 pendekatan sistematik untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia sudah dilaksanakan. Padahal, pada tahun 1984, bukti menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dirasa tidak mampu mengoptimalkan semua sumber pembelajaran dan tidak mampu diterapkan di seluruh Indonesia. Kemudian seiring berjalannya waktu sampai pada tahun 1990, pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan didesain atas asumsi bahwa objek kurikulum diperoleh dari tujuan sistem secara luas dan kemudian tujuan tersebut dapat dibagi menjadi hirarki yang tepat dari instruksi yang objektif dan siswa belajar apa yang mereka butuhkan dengan bantuan guru.
Menurut hasil penelitian yang relevan (Herawati Susilo, 2003), di Indonesia minat anak-anak dalam pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam masih rendah. Selain itu,  kemampuan anak dalam memahami konsep dan proses matematika juga masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil Ujian Nasional yang kurang maksimal. Permasalahan tersebut dapat diakibatkan dari sisi murid, guru, fasilitas, sistem pendidikan yang tidak komprehensif, ketidakselarasan objek pendidikan, kurikulum dan sistem evaluasi pendidikan. Sebagai tindak lanjut permasalahan ini, pemerintah berusaha menekan adanya isu-isu pendidikan dan segera mengimplemantasikan kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai diterapkan pada tahun 2006/2007. Kebijaksanaan ini tentu berkibat pada aspek kemandirian program pendidikan, pengembangan silabus, peningkatan kompetensi guru, fasilitas pembelajaran, anggaran pendidikan, keterlibatan masyarakat, sistem evaluasi dan jaminan mutu. Dalam pengembangan silabus, standar kompetensi harus terperinci sesuai dengan kompetensi dasar.
Pengembangan kurikulum, khususnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk matematika SMP, membutuhkan penelitian yang mendalam dan komprehensif dalam semua aspek yang meliputi: (1) kesempatan belajar matematika bagi semua, (2) kurikulum bukan kumpulan bahan pelajaran akan tetapi seharusnya merupakan refleksi yang koheren dengan kegiatan matematika, (3) pengajaran guru yang sesuai dan komprehensif, (4) pengembangan konsep matematika yang mendalam, (5) penilaian pembelajaran yang dilakukan guru, dan (6) menerapkan berbagai metode pembejalaran yang sesuai.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat menjadi titik awal bagi guru matematika di Indonesia untuk merefleksikan dan mengubah paradigma mereka tentang mengajar. Mukminan dkk (2002) menguraikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMP menekankan pada kompetensi siswa yaitu pada kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan hal ini, pemerintah harus mendukung sepenuhnya peran guru untuk mengembangkan keahlian dan kemampuan siswa dengan mengoptimalkan lingkungan sekitar untuk mendukung kegiatan belajar siswa.
Bukti pendukung berasal dari praktik mengajar guru dengan penerapan aspek dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sebagai contoh observasi pada proses pengajaran guru dalam menjelaskan bagaimana karakteristik silinder dan menentukan ukuran-ukurannya pada siswa kelas 8 SMP, bagaimana metode pembelajaran yang digunakan apakah diskusi kelopompok, ceramah, eksperimen, atau lain sebagainya.
Sedangkan untuk pengawasan akan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dilihat dari segi siswa, guru, dan masyarakat. Hasil dari pengawasan tersebut dijadikan refleksi untuk selalu meningkatkan kemampuan semua aspek yaitu pengembangan kurikulum itu sendiri, guru, kepala sekolah dan supervisor, fasilitas pembelajaran, anggaran pendidikan dan juga sistem pendidikan.
Dalam meningkatkan kualitas pendidikan matematika, pemerintah pusat seharusnya: menegaskan peran guru yang tidak hanya sebatas mengajar saja tetapi seharusnya mampu memfasilitasi murid, menegaskan kembali peran kepala sekolah yang seharusnya mendukung pengembangan guru dengan training, pelatihan maupun workshop,  menegaskan kembali peran sekolah, supervisor, dan juga sistem pendidikan nasional. Dengan adanya kurikulum yang baru ini, guru dapat lebih merespon apa yang menjadi kebutuhan pembelajaran siswa untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan siswa.